animasi bergerak gif
Gaara

Kamis, 03 Oktober 2013

(tugas 1) Kumpulan Tulisan Dosen Fiqh Hisab Rukyah : DR. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag

Andai Hilal Bisa Bicara
H Ahmad Izzuddin
(Anggota Badan Hisab Rukyat Pusat)

Hampir setiap menjelang akhir Ramadhan, masyarakat Muslim awam selalu mempertanyakan: kapan akhir Ramadhan yang berarti kapan hari rayanya? Pertanyaan wajar ini selalu muncul karena di Indonesia sering kali terjadi perbedaan pelaksanaan Hari Raya 1 Syawal (Idul Fitri) oleh umat Islam sendiri. Tidak seperti pelaksanaan hari raya agama lain, yaitu Natal, Waisak, Nyepi, dan sebagainya, yang tidak pernah terjadi perbedaan pelaksanaan hari rayanya. Menariknya, perbedaan pelaksanaan hari raya umat Islam sekarang ini tidak hanya berbeda pada satu hari, bahkan berhari-hari. Tanda-tanda perbedaan pelaksanaan hari raya sekarang ini (Idul Fitri 1430 H) tampak pada perbedaan awal puasa Ramadhan, kemarin. Sebagaimana pemberitaan media cetak dan elektronik, umat Islam ada yang mulai puasa Ramadhan 1430 H pada Kamis, 20 Agustus 2009. Bahkan, ada yang mulai pada Jumat, 21 Agustus atau yang mulai pada Ahad, 23 Agustus 2009. Namun, mayoritas umat Islam Indonesia (keputusan pemerintah sama dengan ketetapan Muhammadiyah dan Ikhbar Nahdlatul Ulama) memulai puasa Ramadhan pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009. 

Kelompok pemahaman
Pijakan hukum Islam terkait bagaimana penentuan 1 Syawal sebenarnya telah ada pada hadis Nabi SAW dengan sangat jelas. Salah satunya adalah hadis riwayat Bukhari Muslim, "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila tertutup oleh awan, sempurnakanlah bilangan Syaban menjadi 30 hari." 

Namun demikian, dalam realitas, pemahaman hadis tersebut memiliki perbedaan interpretasi. Ada yang memahami bahwa rukyat itu harus benar-benar melihat hilal (bulan tanggal satu) yang melahirkan kelompok rukyat dan ada yang memahami bahwa rukyat cukup dengan memperhitungkan posisi hilal dalam makna dapat dilihat (yang melahirkan kelompok hisab). 

Perbedaan pemahaman terhadap hadis tersebut banyak terjadi di kalangan umat Islam Indonesia. Di samping kelompok pemahaman hisab dan kelompok pemahaman rukyat, terdapat kelompok-kelompok yang lain, seperti kelompok rukyat global, kelompok Islam kejawen, kelompok Tarekat Naksabandi, dan kelompok An-Nadir Goa Makassar. Pemerintah pada dasarnya telah berusaha untuk menyatukan pemahaman hisab rukyat dalam formula hisab imkanurrukyah. Namun, dalam tataran praktis, dulu pada zaman sebelum reformasi, sering terbawa nuansa politik. Karena, dalam penetapannya, pijakannya sering kali tidak berdasarkan pada kebenaran ilmiah yang objektif. Sehingga, kemunculan aliran imkanurrukyah produk pemerintah bukan menyatukan, namun menambah runyam dan membingungkan. 

Bagaimana tidak membingungkan, ketika muncul perbedaan dalam penetapan awal-akhir Ramadhan, walaupun pemerintah sudah memfasilitasi penyatuan dalam bentuk sidang isbat yang diikuti oleh semua pihak yang terkait, termasuk dari ormas-ormas Islam; dari masing-masing ormas tersebut tetap saja mengeluarkan keputusannya (apa pun istilahnya--apa itu hanya dengan istilah instruksi atau ikhbar--tetap saja keputusan namanya). Kemunculan keputusan liar itu kiranya tidak dapat disalahkan begitu saja. Pemerintah yang mestinya memegang kendali putusan dalam sidang isbat ternyata lebih mengedepankan kemaslahatan politik pemerintah, yang mestinya harus mengedepankan kebenaran ilmiah yang objektif.

Namun, hal itu berbeda dengan keputusan pemerintah setelah reformasi sekarang ini, di mana Badan Hisab Rukyat yang dibentuk pemerintah telah berusaha memberikan keputusan berdasarkan kebenaran ilmiah yang objektif. Kasus keputusan pemerintah itu terlihat melalui penolakan kabar yang menyaksikan hilal dari Gebang Sampang Madura pada penetapan 1 Syawal 1427 H berdasarkan hisab, pada saat itu hilal masih di bawah dua derajat (di bawah standar imkanurrukyah yang dipegang pemerintah). 

Keterpaduan hisab rukyat
Kalau dicermati secara saksama, ternyata perbedaan penentuan awal Syawal dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, perbedaan hasil ijtihad para ulama fikih dalam masalah penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal. Ada aliran rukyat, seperti Imam Romli dan Al-Khatib Asy-Syaibani, yang menyatakan, jika rukyat berbeda denga penghitungan hisab, yang diterima adalah kesaksian rukyat karena hisab diabaikan oleh syariat (Nihayah Al Muhtaj III: 351). Kemudian, ada aliran hisab, seperti Imam As-Subkhy, Imam Ibbady, dan Imam Qalyuby, yang berpendapat, jika ada orang yang menyaksikan hilal, sedangkan menurut perhitungan hisab tidak mungkin dirukyat, kesaksian itu harus ditolak (I'anatut Tholibin II: 261). Lalu, ada aliran moderat, seperti Imam Ibnu Hajar, yang menyatakan bahwa syahadat atau rukyat dapat ditolak jika ahli hisab sepakat (ittifaq). Namun, jika tidak terjadi ittifaq, rukyat tidak dapat ditolak (Tuhfah Al Mulhaj III: 382).

Kedua, perbedaan tingkat pemahaman sosial. Bagi masyarakat yang sudah modern, mereka bersifat terbuka, objektif, dan selektif dalam berpikir. Berbeda halnya dengan masyarakat tradisional yang notebene bersifat isolatif dan fanatik karena dapat terpengaruh pemikiran produk fikih baru, termasuk dalam hal hisab rukyat.

Padahal, jika kita telah secara serius dan tajam, semestinya keterpaduan penggunaan hisab yang akurat, seperti menggunakan hisab hakiki kontemporer, semacam Al Manak Nautika dan Jeam Meeus serta Ephemeris dan rukyat, sangat perlu dalam menentukan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Karena, dengan hisab yang akurat, dapat diprediksikan lebih dini tentang jatuhnya awal bulan tersebut. Sedangkan, rukyat sebagai pembuktian kebenaran hisab. Sehingga, antara hisab dan rukyat itu bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya serta saling melekat dan menguatkan. Dalam term hukum, dapat dibahasakan hisab sebagai keterangan saksi, di mana hisab yang akurat diperlukan untuk panduan pelaksanaan rukyat yang benar, sedangkan eksistensi rukyat adalah sebagai alat bukti kebenaran hisab. Yang berarti, hisab itu sebagai kebenaran hipotesis yang perlu verifikasi dengan kebenaran empiris, yakni observasi atau rukyatul hilal, mengingat baik hisab maupun rukyat yang dituju adalah satu, yakni hilal (bulan tanggal satu). Oleh karena itu, seandainya hilal (bulan tanggal satu) bisa ngomong, penentuan 1 Syawal sudah tidak ada masalah.

Namun, dalam permasalahan fikih sosial, seperti awal penetapan bulan Ramadhan ini, keputusan yang bijaksana sebaiknya ada di pemerintah melalui menteri agama berdasarkan khidah hukmul hakim ilzamun wayarfaul khilaf. Oleh karena itu, jika pemerintah telah menetapkan dan memutuskan, baik berdasarkan hisab maupun laporan kesaksian rukyat, seluruh masyarakat Indonesia seharusnya mematuhinya (berdasarkan pemahaman kitab Hasyiah Syarwani III: 376, Al Fiqh ala Madzahibil Arba'ah I: 433-435).



Menghisabkan NU, Merukyahkan Muhammadiyah

Oleh: Ahmad Izzuddin Maksum
MENJADI tradisi menjelang awal-akhir Ramadan, masyarakat (awam) selalu mempertanyakan kapan tibanya? Pertanyaan ini kiranya wajar muncul karena sampai sekarang belum nampak adanya konsensus (ijma') tentang dasar yang digunakan dalam penetapan tersebut. Apakah menggunakan hisab (perhitungan), atau menggunakan rukyah (melihat hilal) atau hisab imkanurrukyah (hisab yang menyatakan hilal mungkin untuk dapat dilihat) ? Padahal dasar-dasar tersebut selalu menghasilkan penetapan yang berbeda-beda.
Menurut perhitungan astronomi, awal Ramadan 1423 H kemungkinan besar tidak terjadi perbedaan yakni pada hari Rabu Legi, 6 November 2002. Namun untuk awal Syawal 1423 H akan terjadi perbedaan. Ada yang berhari raya pada hari Kamis Kliwon, 5 Desember 2002 dan ada yang berhari raya pada hari Jumat Legi, 6 Desember 2002.
Suatu hal yang aneh dan selalu membingungkan masyarakat lagi, dan setiap ormas selalu ikut dalam setiap sidang Istbat (penetapan awal-akhir Ramadan oleh Pemerintah), namun dalam dataran realitasnya selalu ada ketetapan dari mereka sendiri (baik dengan bahasa instruksi maupun ihbar). Mengapa demikian ?
Tulisan ini memberikan wawasan yang terkait dengan penetapan tersebut, sehingga jika terjadi perbedaan, masyarakat dapat memahami perbedaan dengan menumbuhkan sikap tepo seliro - toleransi - tasammuh.
Upaya Kompromi
Pada era Orde Baru, Pemerintah cq Menteri Agama nampak tidak konsisten dalam (dasar) penetapan awal-akhir Ramadan. Ini nampak karena selalu dibarengi "kepentingan politik" Pemerintah. Bila Menteri Agamanya Nahdlatul Ulama maka dasar penetapannya pakai rukyah (melihat hilal) dan jika Menteri Agamanya Muhammadiyah maka dasar penetapannya pakai hisab.
Inilah kiranya yang menimbulkan kekurangpercayaan sebagian kelompok masyarakat terhadap ketetapan Pemerintah sebagai ulil amri yang mestinya ditaati, sehingga muncul ketetapan awal-akhir Ramadan dari ormas-ormas sendiri-sendiri dengan bahasa hanya sekadar instruksi maupun ihbar.
Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, di era pemerintahan Megawati sekarang ini perlu adanya langkah konkret yang objektif persuasif. Di samping dalam mengambil kebijakan penetapan awal-akhir Ramadan harus aspiratif dengan standar dasar hukum penetapan yang objektif ilmiah, sehingga tidak ada istilah condong atau keberpihakan pada dasar penetapan yang dipakai oleh siapa yang sedang berkuasa atau dari ormas mana Menteri Agamanya.
Menurut cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan dua sayap Garuda Pancasila Indonesia yang harus dikompromikan jika ingin menjadi negara yang besar. Jejak kompromi politik "mengkiaikan Muhammadiyah - mendoktorkan Nahdlatul Ulama" yang ditawarkan Abdurrahman Mas'ud dalam sebuah tulisannya, layak dipertimbangkan dan diaktualisasikan.
Suatu langkah awal kompromi dan penampungan aspirasi masyarakat baru-baru ini dilakukan IAIN Walisongo Semarang sebagai lembaga ilmu-ilmu keislaman dengan mengadakan lokakarya Imsakiyyah yang bermaterikan penyerasian waktu salat dan hisab awal akhir Ramadan 1423 H.
Lokakarya ini diikuti oleh para pakar hisab rukyah dari PBNU, PP Muhammadiyah, Badan Meteorologi dan Geofisika Jawa Tengah, akademisi IAIN dan STAIN se-Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, PT AIS se-Jawa Tengah, Pengadilan Tinggi Agama Jawa Te ngah, Bintal Kodam IV Jawa Tengah, Bintal Polda Jawa Tengah, Takmir Masjid Kauman Semarang, TVRI Semarang, dan perwakilan Pondok Pesantren se-Jawa Tengah.
Melalui lokakarya ini diharapkan IAIN dapat menjembatani atau paling tidak memberikan wawasan pengetahuan sebelumnya, sehingga jika terjadi perbedaan dapat mengembangkan sikap toleransi.
Mestinya dua metode yakni hisab dan rukyah merupakan dua metode yang saling melengkapi. Metode hisap sebagai prediksi sebelumnya statusnya masih sebatas hipotesis vertifikatif tentu masih memerlukan pembuktian observasi (rukyah) di pantai. Kontinyuitas rukyah dengan dibuktikan dengan hasil hisab harus selalu dilakukan setiap akhir bulan Qamariyah sehingga tidak terbatas rukyah pada akhir bulan Sya'ban, akhir bulan Ramadan dan akhir bulan Dulkaidah.
Pada akhirnya standarisasi ketinggian hilal dapat dihasilkan sebagai hasil kompromi metode hisab dan rukyah secara empiris ilmiah.
Awal-Akhir Ramadan
Dari lokakarya tersebut didapatkan kesepakatan, awal Ramadan 1423 H kemungkinan besar sepakat bareng jatuh pada hari Rabu Legi, 6 November 2002 dengan pertimbangan hisab bahwa ijtima akhir Syakban untuk daerah dari Sabang sampai Merauke sekitar pukul 03.00 wib, matahari terbenam sektiar pukul 17.00 WIB, ketinggian hilal mar'I sekitar + 05 derajat 15' sampai + 06 derajat 45'.
Diperkirakan bila cuaca cerah, hilal sangat mungkin untuk dilihat (dirukyah) untuk seluruh lokasi rukyah di Indonesia seperti Pantai Marina Semarang. Teluk Awur Jepara, Pelabuhan Ratu Banten, Tanjuk Kodok Lamongan.
Menurut data hisab tersebut, mestinya walau dalam cuaca mendung, ketinggian tersebut kiranya harus sangat dipertimbangkan dalam pengistbatan awal Ramadan nanti. Karena dengan ketinggian + 05 derajat sampai + 06 derajat, baik menurut kajian ilmiah dan kebiasaan tentunya sangat layak untuk dapat dilihat (dirukyah).
Bahkan kemungkinan ada yang lebih mendahului dalam memulai puasa Ramadan 1423 yakni pada hari Selasa Kliwon, 5 Noveber 2002 bagi mereka yang berprinsip rukyah global yakni Hizbut Tahrir dan mereka yang berprinsip ijtima qoblal fajr.
Sedangkan untuk hari raya Idul Fitri 1423, nampaknya terdapat kesepakatan untuk berbeda. Berdasarkan data hisab, ijtima akhir Ramadan terjadi pada hari Rabu wage, 4 Desember 2002 sekitar pukul 14.00 wib, matahari terbenam sekitar pukul 17.00 - 18.00 wib. Dengan ketinggian hilal mar'I sekitar - 0 derajat 34' (ketinggian di Merauke) sampai dengan + 0 derajat 31' (Ketinggian di Sabang). Dengan ketinggian tersebut, kemungkinan besar ada yang sudah merayakan hari raya Idul Fitri pada hari Kamis Kliwon, 5 Desember 2002 (berdasarkan prinsip wujudul hilal yang selama ini dipegangi Muhammadiyah, walaupun ada sebagian wilayah di Indonesia yang mana hilal belum wujud).
Ada yang baru merayakan hari raya pada hari Jumat Legi, 6 Desember 2002 (berdasarkan istikmal yang selama ini dipegangi Nahdlatul Ulama atau imkanurrukyah, karena dengan ketinggian seperti itu menurut kajian ilmiah empiris sangat tidak mungkin untuk dirukyah).
Oleh karena itu, bagi pemerintah dalam hal ini kiranya harus selektif dengan pijakan standar objektif ilmiah dalam menerima laporan keberhasilan rukyah, sehingga dalam pengistbatan nantinya benar-benar aspiratif.
Membingungkan
Realitanya selama ini walaupun sudah ada sidang istbat yang dilakukan oleh Pemerintah cq Menteri Agama yang diikuti oleh perwakilan ormas-ormas dan pihak-pihak yang terkait, namun di masyarakat masih ada "ketetapan-ketetapan lain" yang kadang berbeda dengan ketetapan Pemerintah. Sebut saja di sini ada istilah ihbar yang dilakukan oleh NU dan ada istilah instruksi yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Benar-benar sangat membingungkan masyarakat "ketetapan-ketetapan ini" walaupun hanya dalam bahasa ihbar maupun instruksi. Apalagi baik NU maupun Muhammadiyah menempatkan wakilnya dalam sidang istbat oleh Pemerintah.
Oleh karena itu, persoalan siapa yang berhak menetapkan permasalahan ini mestinya segera harus tuntas. Apakah persoalan ini kita serahkan sepenuhnya pada Pemerintah dengan dasar Hukmul Hakim Hzamun wa Yarfa'ul Khilaf, dan mestinya masing-masing pihak harus saling legowo untuk tidak mengeluarkan "ketetapan-ketetapan" nya.
Namun demikian jika Pemerintah sebagai ulil amri yang diserahi wewenang penetapan ini idealnya harus aspiratif selektif dan persuasif dengan dasar ilmiah bukan atas dasar pertimbangan politis.
Ataukah persoalan ini kita serahkan sepenuhnya kepada masyarakat sendiri, sehingga Pemerintah tidak usah ikut menetapkan. Biarkan masyarakat sendiri yang menetapkan dan masyarakat sendiri yang menilainya dengan keyakinannya masing-masing.
Dari perilaku semacam inilah kiranya akan muncul perilaku demokratis yakni sepakat untuk berbeda sehingga tumbuh perilaku tepo seliro - toleransi -tasammuh di antara kita. Oleh karena itu, realisasi rencana Pemerintah untuk mengadakan Muktamar Bersama berkaitan dengan permasalahan ini sangat dinantikan oleh masyarakat.(18)
- Ahmad Izzuddin Maksum M.Ag, Dosen Ilmu Hisab Rukyah IAIN Walisongo Semarang, Anggota Badan Hisab Rukyah Jawa Tengah.


Perlu Meluruskan Kiblat Masjid

Oleh: Ahmad Izzuddin HMR
TULISAN Saudara Ir Totok Roesmanto MEng dalam "Kalang" Suara Merdeka, 1 Juni 2003 lalu, mendorong penulis untuk membuat artikel dengan judul ini. Hal itu sebagai pertimbangan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat awam berkait dengan arah kiblat yang sebenarnya.
Mengapa perlu? Realita di masyarakat sampai sekarang, banyak ditemukan masjid-masjid dan musala-musala yang arah kiblatnya berbeda-beda. Padahal menghadap ke kiblat hukumnya wajib bagi yang melakukan shalat.
Tulisan Saudara Totok Roesmanto menyebutkan perbedaan-perbedaan itu, misalnya Masjid Menara Kudus memiliki sumbu bangunan 25 derajat ke arah utara, Masjid Kotagede yang menempati lahan bekas Dalem Ki Ageng Pemanahan sumbu bangunannya 19 derajat, Masjid Mantingan Jepara sumbu bangunannya hampir 40 derajat, Masjid Agung Jepara 15 derajat, Masjid Tembayat Klaten 26 derajat, dan Masjid Agung Surakarta bergeser 10 derajat.
Data Saudara Totok Roesmanto tersebut membuktikan bahwa hasil pengamatan Ditbinbapera Islam (Depag RI) menyimpulkan selama ini arah kiblat masjid yang banyak tersebar di tengah masyarakat, satu sama lain masih ada perbedaan-perbedaan. Bahkan perbedaan mencapai lebih 20 derajat, itu tidak keliru dan tidak berlebihan.
Ketika penulis mengukur arah kiblat di rencana Masjid Besar Kauman Semarang (masih dalam proses pembangunan di lahan tanah banda wakaf Masjid Kauman), seorang kontraktor bangunan menyatakan, ia pernah mengukur arah kiblat di Semarang hanya 14 derajat dari titik barat ke utara. Padahal menurut perhitungan astronomi yang akurat, arah kiblat untuk Semarang 24,5 derajat.
Melihat fenomena itu, kiranya kita perlu meluruskan kiblat masjid, agar dapat memberikan keyakinan dalam beribadah secara ainul yaqin atau mendekati bahkan sampai haqqul yaqin, bahwa kita benar-benar menghadap kiblat (Kakbah). Karena perbedaan per derajat saja sudah memberikan perbedaan kemelencengan arah seratusan kilometer. Bagaimana kalau perbedaan puluhan derajat, bisa-bisa arah kiblat melenceng jauh dari Masjidil Haram, atau jauh dari Baitullah (Kakbah).
Hukum Menghadap Kiblat
Sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, belum ada ketentuan Allah tentang kewajiban menghadap kiblat bagi yang melakukan salat. Rasulullah sendiri menurut ijtihadnya, dalam melakukan salat selalu menghadap ke Baitul Maqdis.
Hal ini dilakukan sehubungan dengan kedudukan Baitul Maqdis saat itu masih dianggap paling istimewa dan Baitullah masih dikotori oleh beratus-ratus berhala di sekelilingnya.
Namun menurut sebuah riwayat, sekalipun Rasulullah selalu menghadap ke Baitul Maqdis, jika berada di Makkah beliau juga selalu menghadap Baitullah.
Demikian pula setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau selalu menghadap ke Baitul Maqdis. Namun 16 atau 17 bulan setelah hijrah, di mana kerinduan beliau telah memuncak untuk menghadap ke Baitullah yang sepenuhnya dikuasai oleh kafir Makkah, turunlah firman Allah yang memerintahkan mereka untuk berpaling ke Masjidil Haram yang memang dinantikan oleh Rasulullah. Demikian cerita hadis terkait dengan asbabun nuzul, ayat-ayat Alquran tentang petunjuk arah kiblat bagi kita sekarang ini.
Pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram mengakibatkan keributan dan menimbulkan berbagai macam komentar, baik dari orang Islam yang lemah imannya (muallaf qulubuhum) maupun dari orang di luar Islam. Mereka mengatakan bahwa Muhammad berpikir kurang matang, sebentar menghadap ke sana sebentar menghadap ke mari.
Ada pula yang mengatakan bahwa Muhammad kembali ke ajaran nenek moyangnya, sebab di sekitar Baitullah pada waktu itu masih banyak terdapat berhala. Sehingga ada orang mualaf yang menjadi kafir kembali.
Atas pemindahan kiblat tersebut, orang Yahudi dan orang munafik sangat tidak senang. Sebab menurut mereka, Baitul Maqdis yang didirikan oleh Nabi Sulaeman adalah tempat suci sumber agama yang dibawa oleh nabi keturunan Israel. Maka dengan berkiblatnya Muhammad ke Baitul Maqdis, berarti ajaran Muhammad hanyalah jiplakan dari ajaran mereka. Sekarang Muhammad berpindah kiblat ke Baitullah, maka mereka sangat kecewa.
Sebetulnya Baitul Maqdis dan Baitullah di sisi Allah adalah sama. Penunjukan ke arah kiblat hanya merupakan ujian ketaatan manusia kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang penting dalam menjalankan shalat adalah ketulusan hati atas perintah-Nya, dengan kerendahan hati mohon petunjuk jalan yang lurus -shirathal mustaqim.
Berdasarkan asbabun nuzul, ayat-ayat arah kiblat dengan didukung hadis qauli amr Muhammad, maka para ulama sepakat - ijma' - bahwa menghadap ke Baitullah hukumnya wajib bagi yang melakukan shalat.
Hanya sekarang timbul pertanyaan, apakah harus persis menghadap ke Baitullah atau boleh ke arah taksirannya saja. Dalam hal ini perlu kita memahami bahwa agama Islam bukan agama yang sulit dan memberatkan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 286. Apalagi dalam soal kiblat, kita diperintahkan menghadap kiblat dengan lafaz syathrah yang berarti arah.
Karena itu, bagi yang langsung dapat melihat kakbah, baginya wajib berusaha agar dapat menghadap persis ke kakbah. Untuk yang tidak langsung dapat melihat kakbah karena terhalang atau jauh, mereka wajib menghadap ke arah yang terdekat, sehingga kita biasa melafalkan niat mutaqbilal qiblah untuk mengawali salat.
Perlu Meluruskan
Untuk mendapatkan keyakinan dan kemantapan amal ibadah kita, maka harus dengan ainul yaqin atau mendekati, atau bahkan sampai pada haqqul yaqin. Kita perlu berusaha agar arah kiblat yang kita pergunakan mendekati persis menghadap ke Baitullah. Jika arah tersebut telah kita temukan berdasarkan hasil ilmu pengetahuan misalnya, kita wajib mempergunakan arah tersebut selama belum memperoleh hasil yang lebih teliti lagi. Hal ini relevan dengan firman Allah surat Al Zumar 17-18: "... sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal."
Namun, kita perlu mencari kesimpulan arah mana yang paling mendekati kebenaran pada arah kiblat sebenarnya. Dengan demikian, untuk menyikapi banyaknya perbedaan dalam besaran-besaran sudut penunjuk arah kiblat yang terjadi di masyarakat selama ini, perlu adanya pengecekan kembali dengan melakukan pengukuran arah kiblat.
Semestinya banyak sistem penentuan arah kiblat yang dapat dikategorikan akurat, seperti dengan menentukan azimuth qiblat ,scientific calculator , atau dibantu alat teknologi canggih semacam theodolite dan Global Position System (GPS) atau dengan cara tradisional.
Yakni melihat bayang-bayang matahari pada waktu tertentu (rashdul qiblat) setelah mengetahui data lintang dan bujur tempat serta mengetahui lintang dan bujur Kakbah.
Bagaimana dengan kompas? Kompas yang selama ini beredar di masyarakat kiranya dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat, namun masih sebatas ancar-ancar yang masih perlu dicek kebenarannya. Karena berbagai model kompas termasuk kompas kiblat masih mempunyai kesalahan yang bervariasi sesuai dengan kondisi tempat (magnetic variation). Apalagi di daerah yang banyak baja atau besinya, akan mengganggu penunjukan utara-selatan magnet.
Secara garis besar, arah kiblat berdasarkan perhitungan astronomi untuk daerah Jawa Tengah, sekitar 24 derajat 10 menit sampai 25 derajat dari titik barat sejati ke arah utara sejati, sehingga dapat dicek dengan sudut busur tersebut setelah mengetahui arah utara-selatan sejati.
Salah satu cara tradisional yang dapat menghasilkan akurat adalah dengan bayang-bayang matahari sebelum dan sesudah kulminasi matahari dalam sebuah lingkaran. Atau dengan cara yang sangat sederhana yakni rashdul qiblat setiap tanggal 28 Mei pukul 16.18 atau setiap tanggal 16 Juli pukul 16.27. Semua benda tegak lurus adalah arah kiblat, sebagaimana pendapat tokoh kharismatik ilmu hisab almarhum KH Turaichan Kudus. Walaupun pada dasarnya rashdul qiblat dapat dihitung dalam setiap harinya dengan mengetahui deklinasi matahari. Hanya penetapan dua hari rashdul qiblat oleh KH Turaichan tersebut adalah atas pertimbangan yang lebih akurat dan realistis.
Karena itu, untuk mendapatkan keyakinan dan kemantapan amal ibadah kita dengan ainul yaqin atau paling tidak mendekati atau bahkan sampai dengan haqqul yaqin. Marilah kita berusaha meluruskan arah kiblat masjid dan musala kita, agar ibadah salat kita mendekati persis menghadap ke Baitullah, sehingga ketika salat, kita yakin benar telah mustaqbilal qiblah.(18)
- Ahmad Izzuddin HMR, SAg, dosen Hisab Rukyah IAIN Walisongo Semarang; anggota Badan Hisab Rukyah Jawa Tengah.



Memahami Perbedaan Penetapan Idul Adha

Oleh: Ahmad Izzuddin Maksum
MENJELANG Hari Raya Idul Adha 1423 H, di kalangan masyarakat awam beredar pertanyaan soal perbedaan penetapan Idul Adha antara Indonesia dan Makah (Arab Saudi). Mengapa perbedaan penetapan itu bisa terjadi, padahal keduanya sama-sama pakai rukyat? Pemerintah Arab Saudi mengumumkan awal Dzulhijjah 1423 H jatuh pada Minggu, 2 Februari 2003, sehingga wukuf di Arafah jatuh pada 10 Februari 2003. Dengan demikian, Idul Adha 1423 H jatuh pada 11 Februari 2003 (Suara Merdeka, 4 Februari 2003).
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama Prof Dr KH Said Agil Al-Munawar MA, berdasarkan rukyat menetapkan bulan Dzulqa'dah 1423 H harus disempurnakan 30 hari (diistikmalkan), sehingga awal Dzulhijjah 1423 H jatuh pada Senin, 3 Februari 2003 dan Hari Raya Idul Adha 1423 H jatuh pada Rabu, 12 Februari 2003 (Suara Merdeka, 2 Februari 2003).
Sementara itu, PP Muhammadiyah berdasarkan hisab wujudul hilal menetapkan waktu Idul Adha 1423 H sama dengan Pemerintah Arab Suadi, yakni 11 Februari 2003. Mengapa hisab Muhammadiyah sama dengan rukyat Arab Saudi? Mengapa rukyat Indonesia berbeda dari rukyat Arab Saudi?
Perbedaan serupa pernah terjadi pada 1411/1991. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Idul Adha di Indonesia jatuh pada 23 Juni 1991.
Banyak orang yang bingung waktu itu. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di beberapa negara Asia timur. Ada juga yang mengecam perbedaan itu seolah-olah tidak mendasar. Bahkan, banyak tokoh masyarakat (kita) yang mempertanyakan perbedaan tersebut. Mengapa sama-sama memakai rukyat, malah terjadi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Adha?
Mengapa Indonesia yang lebih ke timur ketimbang Arab Saudi malah harus ber-Idul Adha belakangan. Ada yang bertanya-tanya mengapa perbedaan waktu yang hanya empat jam antara Arab Saudi dan Indonesia bisa menyebabkan perbedaan penetapan Idul Adha.
Ada dua penyebab perbedaan tersebut hal yang perlu dijelaskan, yakni aspek astronomis penetapan awal Dzulhijjah dan aspek syariat yang berkaitan dengan pelaksanaan puasa Arafah.
Aspek kedua mungkin paling merisaukan banyak orang. Bila kita berpuasa Arafah pada 9 Dzulhijjah ikut ketetapan pada 11 Februari 2003, kita mendengar hari itu di Arab Saudi sudah Hari Raya Idul Adha. Mungkin inilah yang buat banyak orang kebingungan. Berpuasa pada hari raya adalah haram. Lalu haramkah berpuasa pada 11 Februari 2003?
Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, jika kita tahu duduk perkaranya. Tulisan ini akan menguraikannya dengan harapan kita menjadi memahami permasalahan tersebut sehingga dapat beribadah dengan yakin dan mantap.
Biasa Terjadi di Indonesia
Perbedaan penetapan bulan Qomariyah yang berkaitan dengan ibadah yakni penetapan awal-akhir Ramadan dan awal Dzulhijjah di Indonesia memang biasa terjadi. Snouck Hourgronje bahkan pernah menyatakan kepada Gubernur Jenderal Belanda, "Tak usah heran jika di negeri ini hampir setiap tahun timbul perbedaan penetapan awal dan akhir puasa (dan penetapan Idul Adha). Bahkan terkadang perbedaan itu terjadi antara kampung-kampung berdekatan" (Tempo, 26 Maret 1994).
Statemen Snouck Hourgronje tidaklah berlebihan, karena memang banyak sekali aliran pemikiran yang berkaitan dengan penetapan tersebut. Aliran pemikiran itu muncul karena perbedaan pemahaman dasar hukum hisab- rukyat yang masihmujmal yakni hadis "Shumu lirukyatihi wa afthiru lirukyatihi." Bahkan, persinggungan Islam sebagai great tradition dan budaya lokal sebagai little tradition menumbuhkan aliran tersendiri, dalam hal ini sebagaimana munculnya aliran hisab Jawa Asapon dan hisab Jawa Aboge.
Secara keseluruhan aliran pemikiran yang berkaitan dengan penetapan awal bulan Qomariyah termasuk Idul Adha adalah sebagai berikut. Pertama, aliran hisab wujudul hilal. Aliran ini berprinsip jika menurut perhitungan (hisab), hilal dinyatakan sudah di atas ufuk, hari esoknya dapat ditetapkan sebagai tanggal baru tanpa harus menunggu hasil melihat hilal pada tanggal 29. Prinsip tersebut selama ini dipegang oleh Muhammadiyah.
Kedua, aliran rukyat dalam satu negara (rukyah fi wilayatil hukmi). Prinsip aliran ini berpegang pada hasil rukyat (melihat bulan tanggal satu) pada setiap tanggal 29. Jika berhasil melihat hilal, hari esoknya sudah masuk tanggal baru. Namun, jika tidak berhasil melihat hilal, bulan harus disempurnakan 30 hari (diistikmalkan) dan hanya berlaku dalam satu wilayah hukum negara. Keberadaan hisab dipergunakan sebagai alat bantu dalam melakukan rukyat. Prinsip ini yang dipegangi Nahdlatul Ulama selama ini.
Ketiga, aliran hisab imkanurrukyah (hisab yang menyatakan hilal sudah mungkin dapat dilihat). Inilah aliran yang dipegangi pemerintah dengan standarimkanurrukyah 2 derajat dari ufuk.
Keempat, aliran rukyat internasional atau rukyat global yang berprinsip jika di negara mana pun menyatakan melihat hilal, maka hal itu berlaku untuk seluruh dunia tanpa memperhitungkan jarak geografis. Aliran tersebut yang selama ini di Indonesia dikembangkan oleh Hizbut Tahrir.
Kelima, aliran hisab Jawa Asapon yang berpedoman pada kalender Jawa Islam yang diperbaharui dengan ketentuan Tahun Alif jatuh pada Selasa Pon. Aliran ini dianut oleh Keraton Yogyakarta.
Keenam, aliran hisab Jawa Aboge yang berpedoman pada kalender Jawa Islam yang lama dengan ketentuan Tahun Alif jatuh pada Rabu Wage. Aliran ini yang dianut oleh mayoritas pemeluk Islam Kejawen seperti di Dusun Golak Ambarawa.
Ketujuh, aliran mengikuti Makah yang berprinsip kapan Makah menetapkan, maka penganut aliran ini mengikutinya. Di sini tampak mempertimbangkan letak dan jarak geografis.
Di antara banyak aliran tersebut, yang sering mencuat dan membikin ramai suasana adalah jika terjadi perbedaan penetapan antara aliran hisab wujudul hilal yang dipegang Muhammadiyah, aliran rukyat satu negara yang dipegang Nahdlatul Ulama, aliran hisab imkanurrukyah yang dipegang pemerintah, dan aliran rukyat internasional atau rukyat global.
Melihat fenomena semacam ini, sangatlah arif ketika terjadi perbedaan kita kembangkan sikap saling memahami perbedaan dalam bingkai toleransi. Penulis sepakat dengan pernyataan utusan PP Muhammadiyah Fatah Wibisono yang menyebutkan selayaknya pemerintah tidak menekan ormas Islam dalam penentuan Hari Raya Idul Adha (Suara Merdeka, 2 Februari 2003). Sebab, pada era reformasi sekarang dalam rangka mengembangkan sikap berdemokrasi yang baik, kita perlu mengembangkan sikap agree in disagreement (ittifaq fil ikhtilaf).
Hisab-Rukyah Idul Adha
Menurut perhitungan (hisab) kontemporer, ijtima akhir Dzulqa'dah 1423 tejadi pada Sabtu pukul 17.50 WIB. Di Sumatera, Jawa, Bali, dan NTB, hilal memang sudah di atas ufuk, tapi belum mungkin dapat dilihat. Sebab, masih di bawah standar imkanurrukyah (dua derajat). Laporan rukyat oleh tim rukyat seluruh Indonesia pada Sabtu sore, 1 Februari 2003, menyatakan tidak berhasil melihat hilal.
Berdasarkan data hisab tersebut, Muhammadiyah dengan prinsip hisab wujudul hilal tetap menyatakan awal Dzulhijjah 1423 H jatuh pada Ahad, 2 Februari 2003 dan Idul Adha 1423 ditetapkan pada Selasa, 11 Februari 2003. Ini tidak keliru, karena menurut hisab memang hilal sudah di atas ufuk.
Dengan pertimbangan tidak mungkin dilihat dan memang tidak berhasil merukyat, walaupun sudah di atas ufuk, maka pemerintah menetapkan bulan Dzulqa'dah 1423H harus disempurnakan 30 hari dan awal Dzulhijjah 1423 H baru ditetapkan pada Senin, 3 Februari 2003, sehingga Idul Adha jatuh pada Rabu, 12 Februari 2003.
Demikian pula Nadlatul Ulama, karena rukyat pada 1 Februari (29 Dzulqa'dah 1423) tidak berhasil melihat hilal, sehingga menetapkan Idul Adha sama dengan pemerintah.
Bagaimana Kita Meyakini?
Berkaitan dengan perbedaan penetapan Idul Adha sekarang, yang terpenting kita yakin dan mantap dengan keyakinan masing-masing. Sebab, ini masalahijtihadiyyah, tiap-tiap aliran pemikiran mempunyai dasar ijtihad sendiri.
Bagi yang meyakini berdasarkan hisab wujudul hilal (yang dipegangi Muhammadiyah), awal Dzulhijjah 1423 Hjatuh pada Ahad, 2 Februari 2003 berarti dapat melaksanakan puasa Tarwiyah pada Ahad, 9 Februari, puasa Arafah pada Senin, 10 Februari dan merayakan Hari Raya Idul Adha pada Selasa, 11 Februari 2003.
Yang meyakini berdasarkan rukyat (yang dipegangi Nahdlatul Ulama) dan hisabimkanurrukyah (yang dipegangi pemerintah), awal Dzulhijjah 1423 Hjatuh pada Senin, 3 Februari, yang berarti dapat melaksanakan puasa Tarwiyah pada Senin, 10 Februari, puasa Arafah pada Selasa, 11 Februari dan merayakan Hari Raya Idul Adha pada Rabu, 12 Februari 2003. (e)
-Ahmad Izzuddin Maksum MAg, dosen Hisab Rukyat IAIN Walisongo Semarang, anggota Badan Hisab Rukyat Jawa Tengah, Pengasuh PP Daarun Najaah Jrakah Tugu Semarang.


Mencari Berkah Sura

Oleh Ahmad Izzuddin HMR

SETIAP memasuki tahun baru Islam (bulan Muharam) sudah menjadi tradisi bagi kaum muslim untuk melakukan doa yang disebut doa awal dan akhir tahun. Doa tersebut dengan harapan untuk revitalisasi kadar keimanan dan agar dosa-dosa yang pernah dilakukan selama satu tahun yang lalu dapat lebur dan membuka lembaran tahun baru dengan aktivitas yang lebih baik lagi.
Bagi muslim Jawa, momentum tahun baru semacam ini ternyata tidak hanya digunakan untuk membaca doa akhir dan awal tahun saja, tapi banyak melakukan tirakatan-tirakatan atau lakon-lakon (merujuk klasifikasi Clifford Geertz bahwa di masyarakat Jawa terklasifikasi menjadi kaum santri, priyayi dan abangan).
Misalnya lakon ngumbah keris (perilaku mencuci keris), lakon ngumbah pusaka (mencuci pusaka), lakon ngumbah aqiq (mencuci batu permata), lakon topo(bertapa/bersemedi), lakon kungkum (merendam di dalam air), memulai tirakatposo dalail (puasa satu tahun penuh kecuali hari raya dan hari tasyrik), lakon membuat rajah (sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan), dan masih banyak lagi lakon-lakon atau tirakatan-tirakatan yang lain.
Termasuk tradisi membuat Bubur Suro oleh masyarakat Jawa atau upacara tobat (Minangkabau: tabuik). Ini semua karena adanya yakin bahwa momentum bulan Syuro (sebutan bulan pertama dalam kalender Hijriah - bulan Muharram - menurut orang Jawa) dapat mendatangkan ''berkah'', dapat mendatangkankasekten/kadigjayaan (kekuatan). Tidak berlebihan manakala banyak orang yang menunggu kehadirannya terutama oleh mereka pengamal tirakatan atau lakon-lakon tersebut.
Oleh karena itu, dengan datangnya tahun baru Hijriah (1427 H) yang berarti memaski tahun baru Hijriah (disebut bulan Syuro menurut orang Jawa), kiranya sangatlah tepat makanala dijadikan sebagai momentum tirakatan bagi bangsa kita dengan melakukan muhasabah kadar keimanan kita.
Dengan introspeksi: sudah baikkah kadar keimanan kita selama ini kepada Allah? Apakah kita masih berbuat zalim yang dapat mengurangi kader keimanan kita? Mengingat sampai sekarang begitu banyak musibah-musibah yang masih melanda bangsa kita ini. Karena sebagaimana pesan Allah yang terkait dengan cerita kaum Saba yang semestinya diberi Allah berkah yang banyak, namun karena mereka berpaling (tidak takwa - yang berarti melakukan kezaliman) maka Allah memberikan musibah (surat Saba' 15-16).
Pesan ini selaras dengan pernyataan Alexis Careel bahwa jika pengabdian kepada Allah disingkirkan dari tengah kehidupan masyarakat, maka hal itu berarti menandatangani kontrak kehancuran sendiri.
Mitos Sura
Syuro merupakan nama bulan pertama dalam kalender Jawa yang sekarang berprinsip Asapon tidak Aboge lagi. Kalender Jawa tersebut (yang disebut juga kalender Soko) asal muasalnya merupakan kalender Jawa Hindu yang berdasarkan pada peredaran matahari (kalender Syamsiyah). Namun sejak 1043 H/1633 M ketepatan tahun 1555 tahun Soko, oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma diasimilasikan berdasarkan peredaran bulan (menjadi kalender Qamariyah).
Selanjutnya menjadi Kalender Jawa Islam. (Baca Alfred A Knopt, h. 282-284), sehingga muncul kesan identifikasi dalam kalender Islam murni (kalender Hijriah).
Istilah bulan Syuro dalam kalender Jawa (bulan Muharam dalam istilah kalender Hijriah) kalau dilacak itu pun berasal dari istilah Islam. Bahkan berasal dari penggalan sabda nabi Asyuro Yaumul Asyir. Istilah Asyuro adalah hari kesepuluh dari bulan Muharam. Di mana pada tanggal 10 Muharam tersebut terdapat banyak mitos yang terkait banyak dengan kemukjizatan para nabi. Dalam hadis lain juga disabdakan ''Asyuro adalah hari raya kemenangan para nabi sebelum kamu semua''.
Menurut Hasan al-Fayumy dalam Nazhot al-Majalis, istilah syuro berasal dari kataAsya Nurron (Hidup Dalam Cahaya Allah). Ini berpijak pada banyaknya mitos para nabi yang terjadi pada tanggal 10 Muharam,sehingga istilah syuro pada dasarnya merupakan penamaan yang berpijak pada momentum tanggal 10 Muharam yang penuh dengan mitos-mitos religius.
Mitos religius yang muncul pada tanggal 10 Muharam tersebut menurut al-Shohib al-Jawahir al-Makiyyah, diantaranya: peristiwa kali pertama Allah menciptakan manusia yakni Nabi Adam sekaligus memerintahkannya untuk menetap di Surga.
Ada peristiwa penciptaan bumi dan alam seisinya. Ada peristiwa mendaratnya kapal Nabi Nuh di gunung al-Judy setelah peristiwa banjir bandang yang menenggelamkan dunia. Ada peristiwa penyalamatan Nabi Ibrahim oleh Allah dari kobaran api. Ada peristiwa penyelamatan Nabi Yunus keluar dari perut ikan besar setelah beberapa hari ada di dalamnya. Ada peristiwa penyelamatan Nabi Ayub dari penyakit kulit yang sangat parah yang menimpanya semenjak lahir.
Ada peristiwa keluarnya Nabi Yusuf dari sumur setelah beliau dimasukkan oleh saudara-saudaranya karena iri dengki dengannya. Ada peristiwa penyembuhan mata Nabi Yakub. Ada peristiwa pertolongan Allah kepada Nabi Musa denganmemiyak (membelah) lautan untuk keselamatan Nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan raja Firaun serta pasukannya.
Tidaklah berlebihan manakala muncul banyak hadis nabi yang menganjurkan untuk menggunakan momentum tersebut untuk berpuasa. Di antaranya hadis: Asyuro'u 'Idu nabiyyin qablakum fa shumuuhu antum. Ada hadis: ''Barang siapa puasa pada hari Asyuro maka Allah mencatatnya sebagai ibadah haji seribu kali, umroh seribu kali, diberi pahala bagai seribu orang mati sahid, dan masih banyak lagi''. Intinya berisi anjuran untuk berpuasa pada bulan Muharam terutama pada tanggal sepuluh (Asyuro).
Dari mitos-mitos inilah kiranya, muncul bulan Muharam yang dikenal dengan bulan Syuro dianggap ''keramat'' dan membawa ''berkah'', sehingga digunakan untuk memulai tirakatan atau lakon-lakon sebagaimana tersebut di atas baik oleh kaum santri maupun kaum muslim Jawa (Kejawen).
Berkah Syuro
Merujuk pada banyak mitos syuro tersebut, kiranya tidaklah berlebihan manakala awal tahun baru Hijriah (1427 H sekarang ini) kita jadikan momentum muhasabahdengan melakukan tirakatan-tirakatan untuk mendapatkan berkah syuronya.
Apa yang perlu kita muhasabahi atau kita introspeksi? Jika kita merujuk pada pesan cerita kaum Saba yang selaras dengan pernyataan Alexis Carrel, kiranya muhasabahkadar keimanan kita kiranya yang perlu kita dahulukan, sehingga dengan prinsip ''memulailah dari diri kita sendiri'' kiranya perlu kita pertanyakan pada diri kita: Sudah tidak dlalimkah kita kepada Allah? Sudah tidak zalimkah kita pada diri sendiri? Sudah tidak zalimkah kita pada sesama kita? Sudah tidak zalimkah kita pada lingkungan sekitar kita?
Mengapa demikian, karena merujuk pada beberaa pengertian kezaliman dalam Alquran ternyata memang itulah bentuk-bentuk kezaliman. Kezaliman itulah yang menghancurkan kebahagiaan kita sendiri, sebagaimana pesan Allah dalam surat al-Hijr: 78-79 bahwa kehancuran penduduk Afkah karena kezalimanya sendiri.
Marilah momentum tahun baru Hijriah sekarang ini kita jadikan momentummuhasabah kita untuk meningkatkan kadar keimanan kita yang tidak bias dalam kezaliman.
Semoga momentum Syuro 1427 H ini dapat benar-benar membawa ''berkah'' bagi kita semua. Amin. (11)
- Ahmad Izzudin HMR, M.Ag, dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, pengasuh Pesantren Mahasiswa ''Daarun Najaah'' Jerakah Tugu Semarang

tebak-tebakan tanggal lahir.. :) *part 1

haii.. fren.. *followers sejatii gue ana.. ;)
muncul lagii nih postingan ana d malam berhias rasi bintang Orion di langit timur awal bulan Oktober yang moga always membawa keceriaan.. *amin :)

kalii ini ana mau curhatt bagii2 cerita buat readers smuaa..
*bagii2 cerita melulu, kapan bagii2 THR nya(?) #maunya!!-.-"

ceritanya nih, Ahad, 29 September ana en followers fren, dapet tugas dari bapak Dosen kami yang terhormat dan tercintaa :) pak Izzuddin, yaitu disuruh nebak tanggal lahir 5 orang yang belum dikenal dengan syarat si penanya dengan yg ditanya berjenis kelamin sama (perempuan dengan perempuan, begitupun sebaliknya, red)

so, dengan bermodalkan 'rumus' yang hanya diketahui oleh kami, mahasiswa Ilmu Falak, ceiilee, kami pun siap menjalankan tugas.. *sekali-kali kepo en dianggap 'dukun' sama orang yg baru dikenal juga gapapa.. nah lho?-.-" hhehehe

-> Ahad, 29 September 21.00 wib
siip.. ana pun mulai dari TEMEN SEKAMAR ana di Ma'had yang berbeda fakultas (ana fakultas syari'ah, temen ana fakultas ushuluddin) -> ceritanya belum kenal, gitu.. :P
setelah melalui serangkaian wawancara dengan narasumber, ana pun berhasil bin sukses menebak dengan tepat tanggal lahir temen ana itu.. yupz.. (eh, mau tau? rahasia dunk.. pokok nya bulan Oktober) -> sehati sama yg nanya.. hhohoho :D

-> Senin, 30 September 8.45 wib
lanjut pada 'korban' kedua.. hhaha *laugh devil >:D -> sadis
yaitu temen SEKELAS di KELAS BAHASA.. perlu diingat disini syaratnya adalah memang orang yg belum dikenal dan BUKAN merupakan mahasiswa falak.. hhehe.. dan lagi2 nih ceritanya belum kenal, gitu..
(kan kalau kelas bahasa itu dicampur sama mahasiswa dari berbagai jurusan dengan diurutkan dari kemampuan hasil tes bahasa mahasiswa baru di awal tahun)
oke, untuk berhati-hati, ana ga langsung chapcuss kalo sama temen ana yg satu ini.. beda dengan temen sekamar yang ana buka dengan kata2 mengejutkan dengan sedikit didramatisir, "AKU BISA NEBAK TANGGAL LAHIR KAMU, LHO.. HEBAT, KAN..?" -> hhaha.. berlebihan ya?-.-"
kalau temen sekelas di kelas bahasa ini, sambil bisik-bisik ana bilang,"pst, pst, pst... pst.. pst.. pst..."
*hah? ngomong apaan tuh..????
#kan judul nya juga BISIK-BISIK..!!
*ga segitunya juga kaleee -.-"

oke, karena ana sedang berbaik hatii, jadi ana TRANSLATE buat readers smua..
"pst, pst, pst... pst.. pst.. pst..." = "hei, sebelumnya kamu pernah ditebak tanggal lahir, belum?"

daaaaaaaaan darandandan dandandan.....
jawaban dia bikin ana aslii kuagettt.. -> lebhay

"PERNAH"

whaaaaaaatttt???@#$%^&*
ana ga percaya

"masa' sih? kapan?" ana tanya lagii

dengan polosnya dia menjawab,"DULU PAS AKU DI TSANAWIYYAH (SMP sederajat)"
haaaaaaaaaaaaaaaaa???-.-" *sesuatu

"itu ditebaknya sama siapa?? trus sekarang masih inget ga ditanya en caranya gimana? mau ga klo sekarang coba aku tebak? aku bisa nebak, lho.. hebat, kan.. eh, tau ga, klo mahasiswa yg hebat itu salah satu faktornya ya karena dosen nya juga HEBAT.. keren, kan.." -> berlebihan pake buanggetttz

dan singkat cerita pun ana dengan TEPAT dan sukses berhasil nebak tanggal lahir temen kelas bahasa ana itu.. dan hasilnya pun ternyata dia juga bulan OKTOBER..!! skali lagii, fren, yang ditanya dengan si penanya SEHATI.. -> sama2 bulan Oktober..

-> (masih) Senin, 30 September 11.00 wib
oke, beranjak ke 'korban' ketigaa.. jengjreng..

ana yg baru keluar kelas, janjian sama temen2 kelompok Fiqh kelas Falak buat ngerjain tugas tuh Mata Kuliah.. tapi karena temen2 masih pada makan, lah, masih pada ini, itu, ada yg masih ada kelas bahasa juga, jadi ana memutuskan untuk nunggu d depan perpus..

daaaan.. d depan perpus ana pun bertemu dengan sosok yang "ceritanya belum kenal, gitu.." yupz, ana kenal dia, dia kenal ana, tapii kita jarang banget ketemu.. dia jurusan apa, ana jurusan apaa.. en ga pernah ada event2 tertentu yang bikin kita sering ketemu..
akhirnya ana coba aja melancarkan aksi.. siiiiip..
setelah serangkaian wawancara, ana lagi-lagi, alhamdulillah bisa nebak dengan sukses tanggal lahirnya.. tapiii.......... benak ana mendadak dipenuhi oleh sebuah tanda tanya besar.. (??????) -> ukuran nya gabisa d besarin..-.-"

"kenapa orang2 yang aku tebak semuanya lahir bulan Oktober, sih??? sama kayak aku (yang nanya), sehatii yaa sama aku.."
-> kebetulan kalii ya fren, atau ana curiga jangan2 dengan ana akhirnya tau tanggal lahir mereka, jadi ana harus kasih kado buat mereka yg notabene sekarang udah masuk bulan Oktober..!! oh God..!!-.-"

okelah.. jadii sepanjang hari Ahad-Senin, ana berhasil mengumpulkan 3 orang yang rencananya mau ana masukkan k dalam tugas.. kenapa ana bilang "yang rencananya mau ana masukkan k dalam tugas"..?? karena, sebenarnya, ana sudah menebak 5 orang, fren.. tapii 2 orang dari 5 orang itu adalah TEMEN SEKAMAR ana.. ga mungkin kan kalau ana masukin temen sekamar semua..
jadii, rencananya ana insya Allah mau nanya k 2 orang yang emang betul-betul BELUM ANA KENAL SEBELUMNYA, bukan orang yang "ceritanya belum kenal, gitu".. hhehe..

tunggu aja ya kelanjutannya.. ;)

*to be continue..

Rabu, 02 Oktober 2013

Fenomena Tradisi Khatmul Qur'an Ma'had IAIN Walisongo

bismillah..

kaif khaluk ya ashdiqoi..?
moga slalu ada dalam kebaikan dan rahmat Allah yapz.. :)

postingan kali ini ana mau bagi2 cerita nih buat readers semua..
*asiiikk.. sekarang pake "ana" nih yee, bukan "gue".. -> hhaha..-.-"

#chapchuuss..

tepat Senin, 30 September 2013 (akhir bulan) seperti biasa, Ma'had IAIN Walisongo mengadakan tradisi khatmul qur'an (sama seperti d akhir bulan Agustus sebelumya)..
tapi, ana ga ngikutin khatmul qur'an bulan Agustus, fren.. soalnya khatmul qur'an di Ma'had bersamaan dengan acara silaturrahmi Jurusan Ilmu Falak di kantor Fakultas bersama bapak Dekan, wakil Dekan, Kajur de el el yg dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Falak angkatan tahun 2009-2013.. :)

nah, karna ana baru pertama kali ikut khatmul qur'an bulan September kemarin, jadi ana baru ngeh alias baru ngerti en tau, "ohhh.. 'tradisi' khatmul qur'an itu kayak gini, toh.." (hheum..)

ternyata ya, selain bawa al qur'an -> ya iya lah buat baca qur'an-.-", juga bawa air (dalam kemasan apapun) yang penutup nya wajib dibuka selama pembacaan al qur'an en doa..

ana jadi inget sama khutbah ana dulu pas PLKJ (sejenis KKN -> syarat kelulusan pesantren ana tingkat Muallimin/Muallimat (SMA sederajat)) di pengajian ibu2 Persistri PC Cikalong Kulon, Cianjur, Jabar, (eh, tingkat PC (cabang) atau PD (daerah) sih? ana lupa-.-") yaitu tentang penelitian Dr. Masaru Emoto mengenai KEAJAIBAN AIR..!! lebih lengkap kalo readers penasaran tentang penelitian beliau lebih lanjut bisa browsing sendirii aja yaa.. hhehe ;)
salah satu keajaiban yang dijabarkan dalam penelitian tersebut yaitu tentang KRISTAL AIR.. dimana (molekul) air pada suhu tertentu akan berubah menjadi kristal bening nan cantik.. tapi itu hanya berlaku pada air yang notabene "dibisiki" kata2 indah semacam pujian, bacaan ayat suci ataupun doa.. subhanallah..!!
namun, lain cerita apabila air itu "dibisiki" dengan kata2 buruk semacam cacian, ejekan dan lain sebagainya, air tidak akan berubah menjadi kristal, malah hancur/rusak tak berbentuk..


nah, kembali kepada 'tradisi' khatmul qur'an yang ana temui disini (di Ma'had IAIN Walisongo, red), ana merasa yakin bahwa 99,9% (sembilan puluh sembilan koma sembilan persen) dengan membawa air (sembari tutup nya dibuka selama pembacaan ayat al qur'an dan doa) diharapkan membawa berkah kepada orang yang meminumnya kemudian. dan hal ini merupakan pengaplikasian dari penelitian dan penemuan Dr. Masaru Emoto.. masalahnya adalah ana tidak tau secara jelas dan pasti darimana, sejak kapan dan siapa pembawa tradisi ini..

kalau ana pribadi sih jujur merasa takjub bahwa ternyata tradisi khatmul qur'an ini begitu 'wow'..
hanya saja, khatmul qur'an memang dianjurkan untuk dilakukan setiap bulan karena itu merupakan bukti dari eksistensi nya pembacaan ayat al qur'an dan merupakan ibadah dalam membaca al qur'an.. tapi alangkah baiknya agar tidak dikaitkan dengan adanya tradisi-tradisi yang meskipun baik, karena dikhawatirkan akan adanya ikhthilath (pencampuran) dan mengaburkan pandangan orang awam terhadap mana yang ibadah dan mana yang tradisi.. meskipun keduanya (antara ibadah dan tradisi, red) berbeda..

*ibadah merupakan sesuatu yang tidak bisa dipikirkan secara logis.. (ex, mengapa gerakan shalat harus sedemikian rupa? yang oleh orang non-Islam dianggap seperti sedang melakukan gerakan jungkir balik dan lain sebagainya)

*tapi tradisi (kebiasaan) merupakan sesuatu yang bisa dipikirkan secara logis.. (ex, mengapa kita mandi pakai sabun? ya karena memang secara tradisi/kebiasaan, mandi adalah untuk membersihkan badan dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan sabun, justru aneh kalau kita mandi tidak menggunakan sabun)

*sedangkan adat adalah sesuatu yang tidak bisa dipikirkan secara logis, maka adat termasuk ibadah? iya, tentu bagi agama non-Islam.. (ex, mengapa tanda pernikahan dilambangkan dengan janur kuning????)

karena Islam mengenal ibadah, bukan adat..

untuk berhati-hati, khawatir kalau adat bercampur menjadi ibadah, boleh dan wajar saja kan (harus malah!!!!) kalau misalkan janur kuning diganti dengan tanda/lambang lain..

wallahua'lam bishshawab..

#moga bermanfaat :)

Minggu, 15 September 2013

Sekilas Jihad dalam Perspektif Islam

Berjuang dalam kedamaian
Kata Jihad yang dikemukakan dalam ayat Al-Quran diterjemahkan sebagai ‘berjuang’. Jihad sebagaimana diperintahkan dalam Islam bukanlah tentang membunuh atau dibunuh tetapi tentang bagaimana berjuang keras memperoleh keridhaan Allah, baik individual maupun secara kolektif.

Kata Jihad sama sekali tidak mengandung arti bahwa kita selalu dalam keadaan siap untuk berkelahi atau melakukan perang. Hal itu sama sekali jauh dari kebenaran dan realitas. Arti kata Islam sendiri berarti kedamaian dan semua usaha dan upaya kita sewajarnya diarahkan kepada penciptaan kedamaian serta harmoni di antara sesama kita, dalam komunitas dan dalam masyarakat secara keseluruhan.

Kesalahpahaman
Dalam kamus bahasa Indonesia, kata Jihad diartikan sebagai ‘perang suci’. Dalam kamus bahasa Inggris (Oxford Reference Dictionary) Jihad diartikan sebagai ‘perang untuk melindungi Islam dari ancaman eksternal atau untuk siar agama di antara kaum kafir’. Kata suci dan perang sebenarnya tidak sinonim satu sama lain, bahkan saling bertentangan karena tidak ada yang suci dalam peperangan. Sangat menyedihkan bahwa kata ‘Jihad’ di masa kini sudah disalah-artikan oleh bangsa-bangsa Barat, khususnya dalam media mereka.

Jihad ada tiga jenis:
1.        Berjuang melawan sifat dasar yang buruk dalam diri sendiri yaitu melawan nafsu dan kecenderungan kepada kejahatan.
2.        Berjuang melalui karya tulis, bicara dan membelanjakan harta guna penyiaran kebenaran Islam serta mengungkapkan keindahannya kepada non-Muslim.
3.        Berjuang melawan musuh kebenaran, termasuk di dalamnya perang membela diri.
Rasulullah s.a.w. mengistilahkan kedua Jihad yang pertama sebagai Jihad Akbar sedangkan yang ketiga sebagai Jihad Ashgar (Jihad yang lebih kecil). Suatu ketika saat kembali dari suatu peperangan, beliau menyatakan:
‘Kalian telah kembali dari Jihad yang kecil (berperang melawan musuh Islam) untuk melakukan Jihad yang lebih besar (berperang melawan nafsu rendah). (Khatib)

‘Pedang’ kebenaran
‘Bacalah dengan nama Tuhan engkau yang telah menciptakan; menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ! Dia Tuhan engkau adalah Maha Mulia; yang mengajar dengan pena; mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.’ (S.96 Al-Alaq:1-5)

Perintah pertama Allah s.w.t. ini jelas sekali menyuruh beliau untuk menyebarkan ajaran Islam, baik secara lisan maupun tulisan dan bukan dengan kekerasan, bukan dengan pedang atau pun tindakan agresif apa pun.
Apa yang menjadikan seseorang yang tidak memiliki kekuasaan atau pun kekayaan beriman kepada Rasulullah s.a.w, beliau jelas tidak menghunus pedang untuk memaksanya. Satu-satunya ‘pedang’ yang digunakan  Rasulullah s.a.w. hanyalah Al-Quran, sebuah pedang ruhani, pedang kebenaran, yang secara alamiah telah menarik hati mereka yang tidak percaya, tanpa suatu agresi dalam bentuk apa pun. Demikian itulah keindahan, keagungan dan daya tarik Islam serta diri Muhammad yang menyiratkan kebaikan dan kasih sehingga mereka ini bersedia menyerahkan nyawa untuk itu. Justru orang-orang non-Muslim, terutama penduduk Makkah, yang telah mengangkat pedang fisik mereka untuk menyerang umat Muslim guna memaksa mereka kembali kepada ajaran dan agama lama mereka.

Perintah awal
‘Telah diperkenankan untuk mengangkat senjata bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah diperlakukan dengan aniaya dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka.’ (S.22 Al-Hajj:39)

Para ulama sependapat bahwa ini adalah ayat pertama yang memberi izin kepada umat Muslim untuk mengangkat senjata guna melindungi diri mereka. Ayat ini meletakkan dasar-dasar yang menjadi pedoman bagi umat Muslim dalam melakukan perang defensif (secara terbuka). Jelas telah dikemukakan alasan yang mendorong untuk berperang mempertahankan diri setelah menderita dengan sabar sekian lamanya. Mereka menderita aniaya terus menerus selama bertahun-tahun di Makkah dan masih terus diburu kebencian meski telah hijrah ke Madinah.

Secara spesifik Al-Quran menegaskan bahwa bentuk Jihad ini adalah berperang melawan mereka yang telah menyerang Islam terlebih dahulu, dimana ayat-ayat Al-Quran lainnya juga menguatkan hal ini. Umat Muslim hanya boleh mengangkat senjata untuk membela diri terhadap mereka yang telah terlebih dahulu menyerang dan hanya jika umat Muslim memang tertindas dan teraniaya. Hal inilah yang menjadi esensi Jihad Islamiah yang sekarang ini banyak disalah-artikan. Jelas tidak benar sama sekali jika dikatakan bahwa Rasulullah s.a.w. hanya memberikan pilihan kepada umat untuk bai’at atau mati, Islam atau pedang.

Al-Quran menyatakan:
‘Dan, perangilah mereka itu, sehingga tak ada lagi fitnah dan supaya agama menjadi seutuhnya bagi Allah. Tetapi, jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah swt. Maha Melihat apa-apa yang mereka kerjakan.’ (S.8 Al-Anfal:39)

Ayat di atas menjelaskan kalau perang hanya boleh dilanjutkan sepanjang masih ada laku aniaya dan manusia belum bebas menganut agama yang mereka sukai. Jika musuh-musuh Islam menghentikan perang maka umat Muslim juga harus berhenti pula.

Al-Quran menyatakan:
‘Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan. . .’ (S.2 Al-Baqarah:256)

Ayat di atas mengingatkan umat Muslim secara jelas dan gamblang untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menarik non-Muslim ke dalam agama Islam. Dijelaskan juga alasannya mengapa kekerasan itu tidak perlu digunakan yaitu karena jalan yang benar telah nyata bedanya dari jalan kesesatan sehingga tidak ada pembenaran untuk menggunakan kekerasan.

Fakta masa kini
Pada masa kini, beberapa anak muda Muslim secara konyol telah ‘dicuci otaknya’ sehingga menganggap laku barbar, teror, bunuh diri dan pembunuhan yang mereka lakukan akan menjadikan mereka mendapat derajat syuhada. Laku demikian sama sekali tidak bisa disebut sebagai suatu amal saleh, bahkan lebih merupakan pencemaran nama Islam serta pendurhakaan terhadap firman Tuhan. Al-Quran jelas menyatakan:
‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta bendamu antara sesamamu dengan jalan batil, kecuali yang kamu dapatkan dengan perniagaan berdasar kerelaan di antara sesamamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadapmu.’ (S.4 An-Nisa: 29)

Kata-kata ‘janganlah kamu membunuh dirimu’ melarang keras tindakan bunuh diri. Disamping itu apakah mungkin laku pembunuhan orang-orang tidak berdosa dianggap sebagai amal saleh yang akan memberikan izin seorang Muslim masuk pintu surga? Yang pasti adalah membuka jalan ke pintu neraka!
Wallahu a’lam bishawab.
Dari berbagai sumber.