animasi bergerak gif
Gaara

Rabu, 16 Oktober 2013

Bukan Sekedar Goresan Tinta Biasa

          Tiada hari tanpa menulis. Apapun jenis dan bentuk tulisannya, menulis merupakan kegiatan lumrah sehari-hari semua orang. Mulai dari tulisan sangat sederhana, seperti catatan hutang, sampai tulisan dalam bentuk yang lebih kompleks, seperti skripsi.
Menulis merupakan kegiatan penyampaian ide atau gagasan kepada publik melalui rangkaian kata-kata. Ia lebih abadi dan tidak mudah hilang karena bentuknya berupa tulisan, baik tercetak maupun yang tidak. Berbeda dengan penyampaian ide atau gagasan secara lisan, ia lebih cepat hilang dari ingatan pendengar atau bisa dikatakan penyampaian secara lisan akan cepat menguap seiring berjalannya waktu dan keterbatasan pendengar dalam mengingat.
Urgensi menulis tidak bisa terelakkan bagi setiap lapisan masyarakat. Dewasa ini, para orang tua berbondong-bondong menanamkan dan membekali keterampilan menulis sejak dini kepada anak mereka. Hal ini dibuktikan dengan peran orang tua dalam mengajari dan menyekolahkan anak mereka dengan tujuan agar dapat membaca dan menulis.
Tidak ada alasan bagi generasi muda saat ini untuk tidak menulis. Karena salah satu upaya pengembangan wawasan intelektual dilakukan melalui tulisan. Dalam hal ini tulisan sebagai media perekam ide atau gagasan dengan harapan kemudian bisa diakses oleh generasi berikutnya.
Layaknya para ahli terdahulu yang mengemukakan ide atau gagasan mereka tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui tulisan. Penetapan hukum maupun teori yang hingga kini dapat diterima dan dipakai secara universal oleh generasi-generasi selanjutnya. Karya tulis yang merupakan hasil riset mereka banyak dijadikan rujukan para pelajar masa kini.
Selain itu, menulis juga dapat dijadikan sebagai barometer kemajuan suatu bangsa. Orang-orang terdahulu dalam perjalanannya telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan meski masih sangat sederhana, namun hal itu menjadi cikal bakal keilmuan dan menjadi warisan kebudayaan bagi suatu bangsa.
Seperti dalam sebuah contoh kecil, bila seseorang ditanya mengenai kakek buyutnya, cukup namanya saja, misalkan, ia akan kesulitan menjawab dan kebanyakan orang akan menjawab tidak mengetahui atau bahkan tidak mengenal siapa kakek buyutnya. Berbeda bila seseorang ditanya mengenai al-Khawarizmi, misalkan, ia akan dengan mudah dan secara gamblang dapat menjawab siapa al-Khawarizmi. Padahal kita ketahui bahwa al-Khawarizmi hidup jauh dari masa sekarang atau bahkan dari masa kakek buyut orang yang ditanya, yaitu sekitar tahun 780-847 M. Bukan hal aneh ini terjadi, karena tidak ada faktor apapun melainkan karena kakek buyut kebanyakan orang tidak mewariskan sebuah tulisan yang dapat mengenang keberadaannya di masa sekarang, yaitu di masa generasi selanjutnya hidup. Sedangkan al-Khawarizmi telah mewariskan khazanah keilmuannya melalui tulisannya dalam beberapa buku, seperti salah satu bukunya yang berjudul al-Mukhtashar fi Hisabil Jabr wal Muqabalah.
Bukan rahasia lagi, dengan menulis seseorang akan tetap dikenang sepanjang masa. Dan pengaruh tulisan bisa begitu kuat terhadap para pembacanya. Padahal proses untuk membuat sebuah tulisan bisa dikatakan cukup sederhana, hanya membutuhkan keberanian dan ketekunan untuk menuangkan apa yang menjadi ide atau gagasan dalam pikiran.
Keberadaan tulisan pun dirasa cukup efektif sebagai media penyampaian ide atau gagasan dalam beragam bentuk kepada publik, semisal sebagai media dakwah. Proses penyerapan materi dalam sebuah dakwah dinilai ampuh dan lebih mengena bila disampaikan tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui tulisan. Hal ini tentunya juga diimbangi dengan tingkat kesadaran publik akan urgensi membaca.
Karena itu, seseorang yang memiliki kegemaran menulis dan ia berkarir di dunia jurnalistik, khususnya, akan menemukan beragam hal sekaligus dalam hidupnya, yaitu sebagai pelampiasan kegemaran menulisnya dan tentunya sebagai profesi yang akan menghasilkan materi serta hal terpenting di samping itu semua adalah ia akan terkenang karena tulisan yang dihasilkannya.
Demikian sehingga perlu adanya penegasan bahwa menulis itu mudah. Hanya bermodalkan keberanian, tekad serta ketekunan. Semua orang tentu bisa menulis dan dengan tulisan yang dihasilkannya diharapkan bisa membawa manfaat kepada publik. Orang biasa yang bukan siapa-siapa, bisa menjadi luar biasa dan siapa-siapa, salah satunya adalah karena menulis. Sedangkan seseorang yang tidak menulis adalah nothing.

_dan aku pun hingga detik ini,
hingga di huruf terakhir dari tulisan ini, bertekad akan terus menulis agar aku kelak selalu dikenang.
Annake Harijadi Noor.
15.10.13 21:00.

tebak-tebakan tanggal lahir :) *part 3 (tamat)

(...to be continue)
Beranjak ke hari Jumat dimana saya disibukkan dengan persiapan keberangkatan ke Jakarta untuk mengikuti sidang itsbat. Saya belum sempat mencari ‘korban’ kembali. Sampai di hari Ahad, 6 Oktober 2013, hari kepulangan saya ke Semarang, saya mendapatkan seseorang yang menjadi pamungkas atas tugas saya, genap 5 orang. Maaf, ralat, ganjil 5 orang.
Tepat sekitar pukul 19.00 wib, ketika kereta yang saya dan 12 orang teman saya tumpangi masih menggesek rel kota Tegal, saya beraksi, diawali berbasa-basi terlebih dulu dengan seorang perempuan yang kebetulan duduk di sebelah saya.
“Mbak, turun dimana?”
“Semarang,” jawabnya sembari tersenyum.
“Oh, sama, dong, mbak. Poncol, kan?”
“Iya.”
“Mbak sama, kan tadi dari Jakarta? Asli Jakarta?”
“Engga, sih. Aku asli Tanggerang.”
“Di Semarang kuliah? Dimana?”
“Aku di UNDIP.”
“Oh, UNDIP, ya… Semester berapa?”
“Semester 3. Kalau mbak dimana?”
“Aku di IAIN. Jauh, ya dari UNDIP?”
“Iya, sih. Tapi aku belum begitu tau daerah Semarang, bla… bla… bla…”
(untuk percakapan selanjutnya dipotong karena terlalu panjang, mengingat durasi essay yang tersedia terbatas (di TKP saat itu menghabiskan sekitar 5 menit lebih untuk hanya berbasa-basi)).
“Oh iya, mbak. Pernah ditebak tanggal lahir sebelumnya?” saya mulai masuk ke pokok percakapan.
“Ditebak tanggal lahir? Pernah.”
“Oh iya?”
“Tapi dulu, sih. Waktu SMP.”
“Wah? Terus sekarang masih inget gak, mbak?”
“Engga, sih. Udah lupa.”
“Mau coba lagi, gak? Aku bisa nebak tanggal lahir mbak, lho.”
“Boleh, boleh.”
“Coba, ya, mbak hitung, ya, bla, bla, bla…”
Singkat cerita, untuk kesekian kalinya, saya pun berhasil menebak tanggal lahir… tanggal lahir… (siapa?)
“Oh, iya, mbak. Siapa namanya mbak?”
“Zakia,” jawabnya sembari mengajak bersalaman.
“Keke,” saya turut memperkenalkan diri.
Ini sebuah kefatalan yang sangat fatal. Sudah lebih dari 10 menit kami berbincang-bincang tanpa mengetahui nama masing-masing. Dan hanya dalam waktu kurang lebih 5 menit sejak saya memulai basa-basi, saya sudah mengetahui tanggal lahirnya. Sungguh sebuah perkenalan yang aneh. Biasanya orang yang baru berkenalan bertanya nama terlebih dahulu, kemudian alamat. Sama sekali tidak terpikirkan untuk sengaja menanyakan tanggal lahir.
Akhir cerita, Zakia, ‘korban’ terakhir saya yang saya temui dalam kereta menuju Semarang sepulang mengikuti sidang itsbat, bertanggal lahir 31 Maret.
Begitulah jalan panjang menebak tanggal lahir yang telah saya lalui dalam waktu kurang lebih seminggu. Berawal dari teman sekamar sampai seseorang yang baru dikenal dalam perjalanan panjang di atas kereta.
Sungguh luar biasa dan sangat mengesankan ketika seorang laki-laki dalam kereta berkomentar dengan nada bercanda,”Saya dulu juga dukun, lho.”
Benar-benar BTB, Bukan Tugas Biasa.
Give applause and big appreciation to our honorable lecturer. J


*the end :)

Jumat, 04 Oktober 2013

tebak-tebakan tanggal lahir :) *part 2

....................here it is..! yeah.. let's rock (again) :D

lanjut nih fren..
klo kemaren ana udah berhasil dapet 3 'korban' tebak2an alias objek tugas "menebak tanggal lahir 5 orang yang belum dikenal" ana, nah, terus.. chap chus Kamis, 3 Oktober, ana pun berhasil menambah satu..

*what? just a person??

yupz.. sebenernya udah ada target satu pas sore, tapii GATOT alias mission failed.. jadi cuma berhasil ke satu orang di siang hari bolong di kala matahari Semarang lagii giat-giatnya menyebar panasnya ke segenap penjuru tanpa terkecuali..

readers penasaran ga siapa orang ke-4 yang beruntung yang jadi 'korban' ana kalii inii..???
hehhe.. harus penasaran yahh..!! -> maksa

dia adalah............... ibu Ning..!! yapz.. ibu pemilik warung di Perum Bank Niaga yang menjadi akses penghubung kampus 2 dan kampus 3 IAIN Walisongo.. termasuk akses penghubung (atau penyambung?) ketika rasa lapar melanda.. hhihihi :D

setelah menu makan siang yang menurut ana cukup enak karena mengenyangkan, ana lahap sampai habis tak bersisa kecuali piring dan sendoknya (ya iyalah!), ana akhirnya mengumpulkan segenap keberanian untuk menghampiri ibu Ning yang tengah berdiri di belakang etalase warungnya..
setelah ana berhasil mendekat, ana pun memberanikan bertanya..........

"jadi, semua berapa, bu? tadi saya makan pakai ini, pakai itu, terus ini, itu........."

hahhaaa..
ya iyalah ana bayar!!

seusai ritual bayar membayar, ana pun dengan agak memicingkan mata, menajamkan penglihatan, tepat menembus dalam relung sanubari ibu Ning (berlebihan pake banget), ana bilang, "sebelumnya Ibu pernah ditebak tanggal lahirnya ga, bu..?"

ibu Ning tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab yakin, "belum!"

*gubrakk

yap lanjutt

"saya bisa nebak tanggal lahir ibu, lho.."

"masak sih?"

"mau coba ga, bu? bener, lho, saya bisa.." -> sambil pasang muka meyakinkan..

"boleh.. ayo coba tebak.."

"nah, ibu biar gampang coba pakai kalkulator.. ibu perlu berhitung dulu sebelum saya bisa menebak tanggal lahir ibu.."

"oke.." -> sambil mengeluarkan kalkulator..

#dan wawancara pun berlanjut dan berlangsung kian seru dan memanas sampai si ibu kipas2 (lebay)

yapz..!! untuk kesekian kalinya ana berhasil dengan tepat menebak tanggal lahir si Ibu..
mau tau..?? untuk 'korban' kali ini tidak sama dengan 'korban-korban' sebelumnya, setelah berhasi diketahui, si Ibu lahir bulan September.. prok prok prok (tepuk tangan) -> akhirnya ana nemuin yang bukan bulan Oktober.. :D

tapi sebenernya, sebelum ana berhasil nebak tanggal lahir si ibu, ana sempat tersandung batu kerikil yang tajam dalam perhitungan..
ini sebenernya si ibu yang salah ngitung atau ana yang salah ucap rumus sih..(?)-.-"
haduh..
sempat terjadi insiden dimana perhitungan tidak sesuai dengan apa yg ana dan rumus canggih ana harapkan.. masak sih hasilnya minus..? ini sama sekali tidak masuk akal..

dan akhirnya setelah ana meminta si ibu untuk coba menghitung ulang, akhirnya baru deh bener..! yeeeeeeeeeeee...... :D

hip hip huraa..
*alhamdulillah.. :)

oke, karna satu korban lagi mission failed, jadii misi tetap akan berlanjut esok harii.. semoga berhasil..
*amin

_to be continue

share tugas :)

hi, fren..

terilhami oleh tugas2 gue yg bejibun semenjak gue menginjakkan kaki di bangku perkuliahan, gue berinisiatif buat nge-share beberapa tugas gue ke blog gue tercintah inii..

dari tugas makul Fiqh Hisab Rukyah, yg oleh dosen gue di suruh browsing en searching beberapa tulisan beliau di jagat jurnalistik, en pada akhirnya di kumpulkan dalam satu bundel, di analisis dan dipresentasikan tulisan dosen gue tersebut..

terus tugas bikin paper mengenai Dasar Hukum Menghadap Kiblat.. hheum..
mungkin perlu gue share disini dengan alasan en pertimbangan "sampaikanlah walau satu ayat".. :)
pada intinya, dengan gue share beberapa tugas gue disini, gue berharap moga bisa bawa manfaat buat smua kalangan yg membutuhkan.. tapi bukan berarti tugas kuliah gue yg paling bener en perfect 100% alias sempurna.. hanya saja sebagai bentuk upaya gue dalam menyampaikan ilmu walaupun cuma seayat, semoga bisa menjadi sejuta makna.. :) *amin

(tugas 2) Dasar Hukum Menghadap Kiblat

A.           Pengertian kiblat
Kata kiblat berasal dari bahasa Arab القبلة asal katanya ialah مقبلة sinonimnya adalah وجهة yang berasal dari kata مواجهة artinya adalah keadaan arah yang dihadapi. Kemudian pengertiannya dikhususkan pada suatu arah, dimana semua orang yang akan mendirikan shalat menghadap kepadanya.[1]
Dalam buku Ilmu Falak (cet.I, Yogyakarta : Lukita, 2012) karya Zainul Arifin, hlm. 16, kiblat berarti:
1.             Arah yang merujuk ke bangunan Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi
2.             Jarak yang terdekat dengan Ka’bah.

B.            Dasar hukum menghadap kiblat
1.             Dasar hukum dari al Quran
Firman Allah SWT dalam QS. al Baqarah [2] : 144

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”(al Baqarah [2] : 144)[2]
2.             Dasar hukum dari hadits
a.             Hadits riwayat Imam Bukhari (hadits no. 384 dalam Shahih Bukhari)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى الْكَعْبَةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ } فَتَوَجَّهَ نَحْوَ الْكَعْبَةِ وَقَالَ السُّفَهَاءُ مِنْ النَّاسِ وَهُمْ الْيَهُودُ { مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمْ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ } فَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ مَا صَلَّى فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ هُوَ يَشْهَدُ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ تَوَجَّهَ نَحْوَ الْكَعْبَةِ فَتَحَرَّفَ الْقَوْمُ حَتَّى تَوَجَّهُوا نَحْوَ الْكَعْبَةِ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Raja' berkata, telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menginginkan kiblat tersebut dialihkan ke arah Ka'bah. Maka Allah menurunkan ayat: ("Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit”) (QS. al Baqarah: 144). Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke Ka'bah. Lalu berkatalah orang-orang yang kurang akal, yaitu orang-orang Yahudi: '(Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah: ("Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”) (QS. al Baqarah: 142). Kemudian ada seseorang yang ikut shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, orang itu kemudian keluar setelah menyelesaikan shalatnya. Kemudian orang itu melewati Kaum Anshar yang sedang melaksanakan shalat 'Ashar dengan menghadap Baitul Maqdis. Lalu orang itu bersaksi bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap Ka'bah. Maka orang-orang itu pun berputar dan menghadap Ka'bah.”(HR. Bukhari)

b.             Hadits riwayat Imam Bukhari (hadits no. 385 dalam Shahih Bukhari)

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abu 'abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari Jabir bin 'Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat diatas tunggangannya menghadap kemana arah tunggangannya menghadap. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat yang fardlu, maka beliau turun lalu shalat menghadap kiblat."(HR. Bukhari)

C.           Penentuan arah kiblat
Penentuan arah kiblat merupakan salah satu kisaran pokok bahasan dalam ilmu falak. Masalah kiblat tidak lain adalah masalah arah, yakni arah Ka’bah di Makkah. Arah kiblat ini dapat ditentukan dari setiap titik atau tempat di permukaan bumi dengan melakukan perhitungan dan pengukuran. Oleh sebab itu, perhitungan arah kiblat pada dasarnya adalah perhitungan untuk mengetahui guna menetapkan ke arah mana Ka’bah di Makkah itu dilihat dari suatu tempat di permukaan bumi ini, sehingga semua gerakan orang yang sedang melaksanakan shalat, baik berdiri, ruku’ maupun sujudnya selalu berimpit dengan arah yang menuju Ka’bah.
Umat Islam telah bersepakat bahwa menghadap kiblat dalam shalat merupakan syarat sahnya shalat, sebagaimana dalil-dalil syar’I yang ada. Bagi orang-orang di kota Makkah dan sekitarnya suruhan untuk menghadap ke Ka’bah tidak begitu sulit jika dibandingkan orang-orang yang jaraknya jauh dari Makkah. Yang menjadi persoalan adalah orang-orang yang jaraknya jauh dari Makkah, terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang cukup menghadap ke arahnya saja sekalipun kenyataannya salah, ataukah harus menghadap kea rah sedekat mungkin dengan posisi Ka’bah yang sebenarnya.
Maka dari itu dengan ilmu falak, setiap muslim dapat mengetahui secara akurat kemana arah kiblat bagi suatu tempat di permukaan bumi yang jauh dari Makkah.[3]



[1] Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis, cet. II, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2012), hlm. 18.
[2] Tafsirul ahkam : قد+مضارع bermakna litahqiq, sesuatu yang dilakukan dengan sering. تقلب berarti “berbolak-balik menghadap”, bermakna Rasulullah saw menunggu atau berharap turunnya wahyu berpindah kiblat sejak dikatakan oleh orang Yahudi, mengapa Islam menghadap ke arah yang sama dengan mereka. فلنولينك mengandung dua adat taukid yang bermakna “benar-benar disuruh berpindah kiblat”. Selain karena ingin berbeda dengan orang Yahudi, dalam perpindahan kiblat ke Ka’bah, Rasulullah saw memiliki beberapa alasan, diantaranya, pertama, Ka’bah merupakan kiblat Nabi Ibrahim as. Kedua, Rasulullah saw berkeinginan orang kafir Makkah masuk Islam. Ketiga, Makkah yang merupakan tempat Ka’bah berada merupakan tempat kelahiran Rasulullah saw. شطر (arah yang tepat) المسجد الحرام bermakna : pertama, masjid secara keseluruhan. Kedua, Makkah (QS. al Isra’ : 1). Ketiga, Ka’bah (dalam ayat ini).
[3] Zainul Arifin, Ilmu Falak, cet. I, (Yogyakarta : Lukita, 2012), hlm. 6-7.